JAKARTA, Stock From Zero – PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melirik tambang nikel dan bauksit, setelah memiliki tambang emas dan tembaga. Efek ekspansi ini ke saham DEWA bakal dahsyat, sehingga target harga dikerek tinggi.
Berdasarkan riset UOB Kay Hian Sekuritas, Gayo Mineral akan menjadi kontributor pertumbuhan DEWA ke depan. Broker ini melihat ada potensi kenaikan valuasi DEWA, setelah pengungkapan tambang emas dan tembaga di bawah Gayo Mineral.
”Manajemen kini mempertimbangkan beberapa opsi untuk menggarap aset ini,” tulis UOB Kay Hian, dikutip Jumat (9/1/2026).
Tak hanya emas dan tembaga, demikian UOB, DEWA juga membidik diversifikasi ke mineral lain. Manajemen lantas menunjuk besarnya potensi mineral nonbatu bara, seperti nikel dan bauksit. Ini menjadi indikasi kuat perseroan merambah bisnis nonbatu bara.
Sementara itu, di bisnis saat ini, yakni kontraktor batu bara, DEWA siap menuai lonjakan margin, seiring perubahan skema penggarapan proyek dari subkontraktor menjadi internal. Ini mulai dijalankan tahun 2025.
Manajemen DEWA, tulis broker itu, menargetkan seluruh proyek digarap sendiri mulai kuartal I-2026. Tahun ini, pemindahan lapisan tanah penutup naik menjadi 160 juta bcm dari tahun lalu 125 juta bcm.
Perseroan sudah mendapatkan pinjaman Rp 5 triliun dari konsorsium Bank Mandiri dan BCA, terdiri atas pinjaman investasi Rp 3,3 triliun bertenor lima tahun dan modal kerja Rp 1,6 triliun tenor dua tahun dengan bunga 6,75% per tahun. Dana ini digunakan untuk membeli alat berat, modal kerja, dan operasional proyek. Manajemen DEWA mengisyaratkan potensi penerbitan obligasi untuk mendanai ekspansi.
Berdasarkan riset UOB Kay Hian Sekuritas, Gayo Mineral akan menjadi kontributor pertumbuhan DEWA ke depan. Broker ini melihat ada potensi kenaikan valuasi DEWA, setelah pengungkapan tambang emas dan tembaga di bawah Gayo Mineral.
”Manajemen kini mempertimbangkan beberapa opsi untuk menggarap aset ini,” tulis UOB Kay Hian, dikutip Jumat (9/1/2026).
Tak hanya emas dan tembaga, demikian UOB, DEWA juga membidik diversifikasi ke mineral lain. Manajemen lantas menunjuk besarnya potensi mineral nonbatu bara, seperti nikel dan bauksit. Ini menjadi indikasi kuat perseroan merambah bisnis nonbatu bara.
Sementara itu, di bisnis saat ini, yakni kontraktor batu bara, DEWA siap menuai lonjakan margin, seiring perubahan skema penggarapan proyek dari subkontraktor menjadi internal. Ini mulai dijalankan tahun 2025.
Manajemen DEWA, tulis broker itu, menargetkan seluruh proyek digarap sendiri mulai kuartal I-2026. Tahun ini, pemindahan lapisan tanah penutup naik menjadi 160 juta bcm dari tahun lalu 125 juta bcm.
Perseroan sudah mendapatkan pinjaman Rp 5 triliun dari konsorsium Bank Mandiri dan BCA, terdiri atas pinjaman investasi Rp 3,3 triliun bertenor lima tahun dan modal kerja Rp 1,6 triliun tenor dua tahun dengan bunga 6,75% per tahun. Dana ini digunakan untuk membeli alat berat, modal kerja, dan operasional proyek. Manajemen DEWA mengisyaratkan potensi penerbitan obligasi untuk mendanai ekspansi.